Selain Agnes Mo dan Anggun, 7 Musisi Indonesia Ini Juga Go International!

Akhir-akhir ini perkembangan musik di Indonesia bisa dibilang sangat membanggakan. Hal ini bisa dilihat dari perkembangannya yang begitu cepat dalam dua dekade terakhir. Dan tak bisa dipungkiri lagi jika kini banyak lahir musisi-musisi atau band Indonesia yang mampu ‘keluar kandang’ bersaing dengan musisi kelas dunia. Terlepas dari perbedaan genre, banyak diantaranya yang akhirnya mengharumkan nama Indonesia lewat karya-karyanya yang berkelas. Penasaran siapa saja mereka? Berikut 7 musisi Indonesia yang Go Internasional!

1. White Shoes and The Couples Company

Persiapan untuk tanggal 18 Juni 2017 nanti di Vakansi Studio * info menyusul Foto : @jinpanji #wsatcc

A post shared by WhiteShoes&TheCouples.Co (@wsatcc) on

Yang pertama adalah White Shoes and The Couples Company. Grup band beraliran pop/funk/jazz asal Jakarta ini telah berkarir sekitar selama 15 tahun. Musik mereka berada di jalur retro dengan campuran klasik dan swing jazz ditambah tone disko bergaya 70-an. Klop dengan gaya pakaian mereka yang bergaya vintage, yang menjadi pemanis ketika tampil di atas panggung.

Setelah menandatangani kontrak dengan Minty Fresh Record, label rekaman Amerika Serikat, Album ‘White Shoes and The Couple Company’ pun dirilis di 5 negara antara lain Amerika Serikat, Meksiko, Kanada, Australia, dan Jepang. White Shoes & The Couples Company adalah band Indonesia pertama yang dikontrak oleh label perusahaan musik Amerika. Bahkan MURI mencatat prestasi ini.

Prestasi mereka juga tak main-main. Mereka telah banyak mendapat penghargaan internasional, diantaranya penghargaan dari Allmusicguide sebagai “The 25 Most Crustwothy Band in 2006”, “The 25 Best Band in Myspace in 2007” oleh Rolling Stone.com dan ‘The Most Blogworthy Band on The Planet in 2007’ oleh Yahoo! Music. Mereka juga telah melakukan tur luar negerinya ke Australia pada tahun 2015.

2. Burgerkill

Buat kamu para metalheads tentu sudah tak asing lagi dengan nama Burgerkill. Band asal Bandung ini bisa dibilang sebagai salah satu empunya musik cadas di Indonesia. Dengan mengusung genre Metalcore berpadu dengan Death Metal, Burgerkill nyatanya telah sukses membesarkan namanya di kancah internasional.

Karir mereka di kancah internasional terbilang cukup panjang. Setelah mendapat tawaran dari label indie Malaysia di tahun 1999, Anak Liar Records, mereka berhasil memulai karirnya dengan menghasilkan album ‘Three Ways Split’ bersama dengan Infireal (Malaysia), dan Watch It Fall (Perancis). Tak sampai situ, mereka juga berhasil mendapat endorsements dari beberapa produk apparel terkenal seperti PUMA (Amerika) dan Insight (Australia).

Nyatanya Burgerkill juga sering tampil di berbagai acara bergengsi di luar negeri dan sering satu panggung dengan band metal terkenal lainnya seperti The Black Dahlia Murder, As I Lay Dying, dan Himsa. Prestasi besar yang mereka raih saat ini adalah penghargaan dari Metal Hammer Magazine untuk kategori Metal As F*ck di Inggris mengalahkan band metal internasional lainnya.

3. Noxa

Rasanya musik cadas Indonesia telah merebut hati para metalheads lokal maupun internasional. Tak hanya Burgerkill saja yang telah berhasil melebarkan sayap di skena musik cadas internasional, musisi Indonesia yang go internasional lainnya dalam skena ini yaitu Noxa.

Unit grindcore asal Jakarta ini telah berkarir sejak tahun 2002 dan mempunyai prestasi yang tak kalah gemilang. Mereka seringkali tampil di acara-acara berskala internasional seperti di Malaysia, Singapura, dan Finlandia. Bahkan mereka berhasil menandatangani kontrak dengan label rekaman asal Finlandia, Stay Heavy Records.

Salah satu lagu andalannya di album Grand Virusses, Starvation, juga mendapat bantuan dari band grindcore kelas internasional seperti Keijo Niinimaa (Rotten Sound) pada lirik dan Emil Englund (Gadget) pada vokal.

4. The S.I.G.I.T

Musik indie tanah air memang telah lahir dan berkembang sejak lama, musisi dan band kualitas bagus pun bermunculan silih berganti, dan salah satunya yaitu The S.I.G.I.T. Mereka merupakan band indie rock asal Bandung yang dibentuk pada tahun 1997 ketika para personelnya masih duduk di bangku SMA.

Uniknya, mereka memanfaatkan internet sebagai media penyebaran dan promosi lagu-lagunya, Situs jejaring sosial seperti myspace, friendster, facebook, bebo, dll, disinyalir menjadi senjata utama mereka dan berhasil merebut hati para pendengarnya. Lewat media ini pula mereka berhasil ditemukan oleh salah satu pemilik label di Australia yang kemudian menawari mereka untuk membuat album The S.I.G.I.T.

Prestasinya yang dicapai sangat gemilang dengan seringnya manggung atau tur ke luar negeri seperti Australia dan Singapura. Mereka juga sempat dibahas dalam salah satu kolom pada tabloid musik NME, dengan debut album pertamanya.

5. Superman Is Dead (SID)

Pic courtesy of @traxmagz

A post shared by SID (@sid_official) on

Superman Is Dead (SID) merupakan unit punk rock asal Bali yang bermarkas di Poppies Lane II – Kuta. Walaupun mereka telah mengeluarkan album-album terdahulunya, namun mereka baru terkenal oleh penikmat musik tanah air setelah peluncuran album keempatnya yang berjudul Kuta Rock City. Meskipun begitu mereka tetap bersinar dan berjaya sebelumnya di benua Australia.

Dengan lirik berbahasa Inggris dan musik yang keras tapi easy listening, tak sulit bagi SID untuk diterima penggemar musik tanah air. Mereka juga gemar menyelipkan pesan positif dan semangat nasionalisme di beberapa lagu mereka seperti ‘Sunset Di Tanah Anarki’, ‘Kuat Kita Bersinar’, dan lainnya.

Prestasi mereka bermula di tahun 2009, pada saat itu SID mendapatkan kesempatan untuk melakukan konser 16 kota di Amerika Serikat. Konser yang merupakan ajang promosi pulau Bali dan Indonesia itu mendapatkan sambutan positif dan sukses menjadikan SID sebagai salah satu musisi Indonesia yang go internasional.

6. Gugun Blues Shelter (GBS)

Last night in Purwokertö Terima kasih..! #gugunbluesshelter

A post shared by Official Gugun Instagram (@gugun.gbs) on

Gugun Blues Shelter merupakan band beraliran blues yang dibentuk di Jakarta pada tahun 2004. Mungkin aliran musik blues masih belum populer di tanah air pada saat itu, namun GBS justru mendunia karena genre-nya.

Trio pemusik ini mempunyai banyak prestasi sedari mulai berkarir. Mulai dari memenangi kompetisi tingkat internasional, hingga tampil sebagai band Indonesia dan Asia Tenggara pertama di festival musik terbesar di dunia, Hyde Park, London, Inggris.

Kini GBS bergabung di bawah naungan Grooveyard Record, sebuah label kumpulan dari gitaris top dunia yang bermarkas di Amerika. Album-album mereka jufa telah dirilis di sana, dimana hanya dipasarkan di Benua Amerika dan Benua Eropa.

7. Mocca

Karir Mocca sepertinya terus bersinar dan mengukuhkan diri sebagai salah satu musisi Indonesia yang go internasional dan yang diakui di luar negeri. Dengan lagu-lagu berbahasa Inggris tentu menjadi modal utama agar musik mereka semakin layak dengar dan mendapatkan penggemar baru di luar Indonesia. Sentuhan musik sang jazz, kwee pop, dan suasana 60-an jadi ciri band asal Bandung ini.

Tak heran jika Mocca memilki penggemar dan karier yang cukup baik di Asia dan Eropa. Salah satu perusahaan rekaman di Jepang mengontrak Mocca untuk memasukan satu lagu dalam album besutan mereka, juga ada iklan di Korea yang menggunakan lagu Mocca dan sangat disukai.

Mocca mengawali perjalanan musikal mancanegara mereka di Singapura pada tahun 2005. Saat itu album debut mereka dirilis album oleh label asal Singapura, Fruits Records. Setelah itu dirilis juga oleh label Malaysia, Jepang dan Korea. Tercatat sudah lima lagu mereka yang menjadi jingle iklan di Korea dan juga tampil dalam serial televisi di sana.

Leave A Reply

Navigate